Sungguh saya belum tahu artinya…

Tapi saya terharu melihat surat ini. Pagi ini saya bolak-balik surat kecil bertuliskan huruf kanji dan hiragana.
Saya hanya bisa memahami satu kata di surat ini, “arigatou” yang berarti terimakasih.

Surat ini saya terima dari seorang Ojisan yang duduk di depan saya di sebuah kereta jurusan Fukushima-Sendai.
Ojisan itu baru saja pulang kerja, dengan setelan jas hitam dan tas kantornya. 

Flashback 

Saya sedang duduk di kereta dari kota Koriyama, Fukushima. Sendai adalah tujuan saya. Kereta itu berhenti di sebuah stasiun dan menunggu para penumpang berjubel masuk ke dalamnya. Ketika Ojisan itu masuk kereta, saya melirik hanya dengan sebelah mata kemudian saya lanjutkan tidur saya yang tertunda karena kereta berhenti tiba-tiba.

Saya memejamkan mata, sesekali saya membuka mata untuk memastikan agar Sendai Station tidak terlewat. Ojisan itu terlihat begitu ramah. Beda dengan gaya businessman Jepang lainnya yang terlihat kaku, si Ojisan ini selalu tersenyum. A little bit weird for typical Japanese. Karena biasanya orang Jepang tidak suka menebar senyum kemana-mana. 

Ojisan itu bercengkerama dengan orang di sampingnya. Saya duduk di depan mereka. Kereta berhenti di sebuah stasiun dan kemudian teman Ojisan itu turun. 

Tinggal kami berdua saja di bangku itu. 

Tak berapa lama Ojisan menyapa saya. “Konnichiwa”, katanya.

Saya pun membuka mata kantuk saya dan membalas salamnya.

Itulah awal mula percakapan panjang kami. Berawal dari pertanyaan tipikal seperti, “Dochira e okuni wa?” Sampai membahas mengenai gempa dan tsunami Tohoku 3 tahun lalu. Kami berkomunikasi dengan bahasa yang seadanya. 

Saya dengan bahasa Jepang yang amburadul dan beliau dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. 

Itulah keempat kalinya dalam hari itu saya berkomunikasi panjang dengan penduduk lokal. Pertama adalah dengan seorang kakek-kakek di Fukushima Station saat saya sedang menunggu bus menuju Hanamiyama. Kedua adalah dengan seorang fotografer di puncak Hanamiyama. Ketiga adalah dengan seorang Obachan (ibu-ibu) gaul di dalam bus dari Hanamiyama menuju Fukushima Station. Dan keempat adalah dengan si Ojisan ini.

Kami membahas panjang lebar selama kurang lebih 1 jam. Ia belum pernah mendengar apapun mengenai Indonesia. Dan saya pun memperlihatkan foto pantai Bali kepadanya. 

Di akhir perjumpaan kami sebelum ia turun di Stasiun Minami-Sendai, ia menulis sesuatu di sebuah kertas. Dan menyerahkan sepucuk surat ini kepada saya. 


Kemudian ia membungkuk, menghormat kepada saya sebelum keluar kereta. Saya perhatikan lagi sampai Ojisan keluar, di luar kereta ia masih sempat membungkuk memberi salam lagi kepada saya. 

Saya sungguh terharu. Baru kali ini saya diberi salam membungkuk yang dalam dari seorang Japanese. 

Dan sampai saat ini saya masih belum mengerti apa arti dari surat itu…

ありがとう、ありがとう、いつも ありがとうございました^_^!

Sungguh saya belum tahu artinya…

Tapi saya terharu melihat surat ini. Pagi ini saya bolak-balik surat kecil bertuliskan huruf kanji dan hiragana.
Saya hanya bisa memahami satu kata di surat ini, “arigatou” yang berarti terimakasih.

Surat ini saya terima dari seorang Ojisan yang duduk di depan saya di sebuah kereta jurusan Fukushima-Sendai.
Ojisan itu baru saja pulang kerja, dengan setelan jas hitam dan tas kantornya.

Flashback

Saya sedang duduk di kereta dari kota Koriyama, Fukushima. Sendai adalah tujuan saya. Kereta itu berhenti di sebuah stasiun dan menunggu para penumpang berjubel masuk ke dalamnya. Ketika Ojisan itu masuk kereta, saya melirik hanya dengan sebelah mata kemudian saya lanjutkan tidur saya yang tertunda karena kereta berhenti tiba-tiba.

Saya memejamkan mata, sesekali saya membuka mata untuk memastikan agar Sendai Station tidak terlewat. Ojisan itu terlihat begitu ramah. Beda dengan gaya businessman Jepang lainnya yang terlihat kaku, si Ojisan ini selalu tersenyum. A little bit weird for typical Japanese. Karena biasanya orang Jepang tidak suka menebar senyum kemana-mana.

Ojisan itu bercengkerama dengan orang di sampingnya. Saya duduk di depan mereka. Kereta berhenti di sebuah stasiun dan kemudian teman Ojisan itu turun.

Tinggal kami berdua saja di bangku itu.

Tak berapa lama Ojisan menyapa saya. “Konnichiwa”, katanya.

Saya pun membuka mata kantuk saya dan membalas salamnya.

Itulah awal mula percakapan panjang kami. Berawal dari pertanyaan tipikal seperti, “Dochira e okuni wa?” Sampai membahas mengenai gempa dan tsunami Tohoku 3 tahun lalu. Kami berkomunikasi dengan bahasa yang seadanya.

Saya dengan bahasa Jepang yang amburadul dan beliau dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

Itulah keempat kalinya dalam hari itu saya berkomunikasi panjang dengan penduduk lokal. Pertama adalah dengan seorang kakek-kakek di Fukushima Station saat saya sedang menunggu bus menuju Hanamiyama. Kedua adalah dengan seorang fotografer di puncak Hanamiyama. Ketiga adalah dengan seorang Obachan (ibu-ibu) gaul di dalam bus dari Hanamiyama menuju Fukushima Station. Dan keempat adalah dengan si Ojisan ini.

Kami membahas panjang lebar selama kurang lebih 1 jam. Ia belum pernah mendengar apapun mengenai Indonesia. Dan saya pun memperlihatkan foto pantai Bali kepadanya.

Di akhir perjumpaan kami sebelum ia turun di Stasiun Minami-Sendai, ia menulis sesuatu di sebuah kertas. Dan menyerahkan sepucuk surat ini kepada saya.


Kemudian ia membungkuk, menghormat kepada saya sebelum keluar kereta. Saya perhatikan lagi sampai Ojisan keluar, di luar kereta ia masih sempat membungkuk memberi salam lagi kepada saya.

Saya sungguh terharu. Baru kali ini saya diberi salam membungkuk yang dalam dari seorang Japanese.

Dan sampai saat ini saya masih belum mengerti apa arti dari surat itu…

ありがとう、ありがとう、いつも ありがとうございました^_^!